Oleh: Ferdinand Matita

KINANTI adalah gending langit, suara langit, firman langit, atau kitab-kitab langit. Jadul adalah yang paling awal, terdahulu, awal mula, dan atau permulaan. Jadul Kinanti bermakna, “Suara langit sejak awal mula penciptaan.” Tidak ada yang lebih dulu diciptakan dari pada langit.

Buku Jadul Kinanti JOKOWI Dulu Kini dan Nanti adalah buku tentang ” langitnya Jokowi”. Tentang apa, mengapa dan bagaimana Jokowi disiapkan alam semesta untuk memimpin Indonesia.

“Saya tidak pernah bertemu Jokowi. Juga tidak kenal,” kata Widjiono Wasis, penulis Buku Jadul Kinanti dalam percakapan di sebuah resto di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Lamongan 16 Januari 1956 itu menunjuk Sungai Bengawan Solo, sungai legendaris yang kondang. Sungai terpanjang di Pulau Jawa, hampir 500 kilometer itu mengalir di dua propinsi, yakni Jawa Tengah untuk bagian hulu di Wonogiri dan Ponorogo serta bermuara di Gresik Jawa Timur.
“Mungkin sudah takdir. Presiden Jokowi dan saya setiap hari minum air yang sama, air Sungai Bengawan Solo,” lanjut pria yang akrab dipanggil Wasis tentang alasan menulis buku Jokowi.
Bahkan terkesan becanda dengan mengatakan sosok Jokowi bukanlah sesuatu yang asing, padahal tidak pernah bertemu secara fisik, dan apalagi mengenal. Ada “kekuatan penuntun” ketika Wasis menulis Buku Jadul Kinanti. Tulisan mengalir…., mengalir…., mengalir sampai jauh seperti air Sungai Bengawan Solo.

TANDA TANYA seputar penulisan Buku Jadul Kinanti tetap misteri. Saya tidak menemukan benang merah dan alasan Wasis menulis tentang Jokowi. Juga ketika selesai membaca buku yang Hari Minggu 28 Oktober itu diperkenalkan pertama kali kepada khalayak secara komersial.
Pihak penerbit, WannaB, melihat peluncuran atau launching, lebih bertujuan untuk menguji pasar. Itu pun dari kalangan terbatas.

Hasilnya cukup mengesankan. Pengusaha Mooryati Soedibyo misalnya, memesan dalam jumlah banyak. Bahkan Ketua Banggar DPR-RI, yang juga politisi Golkar, Aziz Syamsuddin langsung jatuh cinta dan rela merogoh saku membeli 2 buku.

“Saya dapat gratis setiap kali hadir dalam acara peluncuran buku baru. Tetapi untuk Jadul Kinanti saya rela bayar,” tambah Aziz Sjamsudin.

Bukan tanpa alasan – setelah mengalami revisi sampul dan menjadi trilogi atau menjadi 3 (tiga) buku dari semula satu buku – Jadul Kinanti tampil “wah” dengan hard cover yang dikemas mewah.
Juga bukan tanpa alasan Buku Jadul Kinanti diperkenalkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Pihak WannaB menilai buku tersebut menyiratkan marwah dan semangat pemuda yang diusung Jokowi dalam memimpin bangsa Indonesia.

BUKU Jadul Kinanti adalah penjelasan tentang siapa, apa dan bagaimana sesungguhnya sosok Presiden Jokowi. Bukan otobiografi. Lebih sebagai hasil olah fakta untuk menggali filosofi yang melatar-belakangi sikap dan tindakan Jokowi dalam berbagai hal.

Contohnya adalah kebiasaan membagi sepeda kepada warga masyarakat. Selain sehat, ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan biaya bahan bakar, bersepeda mengandung filosofi kemandirian. Kemajuan, laju dan kecepatan adalah hasil usaha sendiri. Gerak tubuh sendiri. Seberapa cepat kita ingin sampai tujuan tergantung seberapa keras kita mengayuh, koordinasi harmonis dari masing-masing anggota tubuh.

Lalu bagaimana dengan kodok…? Jokowi sangat menyayangi kodok dan sempat-sempatnya dipelihara di kolam Istana Bogor.
Atau mungkin untuk mengetahui kekuatan apa yang menjadi tameng Jokowi dalam menghadapi serangan hinaan (hate speech) dan fitnah (hoax) yang intens serta sistematis.

Buku Jadul Kinanti mengajak kita untuk berolah-pikir. Mengajak pembaca untuk memahami filosofi hidup dan kehidupan Jokowi. Termasuk (baca: mungkin) bagaimana membaca kelemahan dan cara untuk mengalahkan Jokowi.
Peace..

Pin It on Pinterest

Share This